Selasa, 21 Juli 2015

Untuk Apa Kita Hidup dan Bersekolah Tinggi Tinggi ?

Pendidikan, memang penting karena manusia diperintahkan untuk terus belajar dari lahir hingga keliang lahat. karena memang ilmu itu sangat penting terutama agar kita tidak tertipu oleh orang lain yang lebih pintar, melainkan agar kita tidak disebut bodoh. Terlebih lagi ilmu dalam kehidupan bisa membimbing kita kepada kebenaran dan kebahagiaan. kebenaran disini adalah hidup dengan benar sesuai syariat agama dan adat istiadat juga taat pada hukum negara. mengutip kata-kata einstein bahwa ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah sesat. memang benar jika kita mempunyai ilmu yang tinggi katakan telah menjadi seorang ilmuwan, akan dibawa kearah mana ilmu kita? akan dibawa kearah mana hasil karya kita? akankah dibawa kearah kebaikan atau kejahatan? disinilah fungsinya agama, menuntun kita kepada kebaikan dan kebenaran hidup bersosialisasi, karena dalam agama telah diatur bagaimana hubungan antara Tuhan, antara sesama manusia, bahkan antar lingkungannya juga alam agar hidup kita didunia lebih harmonis dan berjalan dalam jalan kedamaian. ada banyak cara mencari ilmu, kita bisa menempuhnya dengan jalan formal dan informal. telah banyak lembaga pendidikan formal dan informal yang menyediakan berbagai macam metode pendidikan agar menciptakan manusia yang berilmu juga berpendidikan. namun pada kenyataannya, berdasarkan pengalaman hidup saya sendiri. pendidikan melalui jalur formal terkesan hanya formalitas. yang mereka tuju adalah hanya untuk mendapatkan gelar, hanya sedikit yang benar-benar mencari ilmu pengetahuan. contohnya pada jenjang S1, seperti yang sedang saya alami saat ini saya sedang sibuk mengerjakan skripsi. kemana-mana bila ditanya kerja atau belum, masih kuliah atau udah lulus ? jawabannya dengan tegas adalah "KEUR NYUSUN!". menyusun skripsi dikalangan mahasiswa berjenjang S1 nampaknya sudah menjadi momok yang menakutkan, catat! momok yang menakutkan! satahu saya skripsi tetaplah skripsi dan momokpun tetap dalam fungsinya sebagai momok, tentu saja tidak menakutkan. skripsi hanyalah sebuah tulisan hasil pemikiran atau hasil eksperimen atau membuktikan hipotesis apakah sesuai dengan teori atau tidak ? hanya saja memerlukan bahasa dan ketelitian yang cermat. entah kenapa skripsi menjadi pekerjaan yang menakutkan hingga akhirnya banyak mahasiswa yang sering mengeluh karena cape mengerjakan skripsi atau revisian yang salah melulu dan dengan renyahnya dosen pembimbing mencorat-coret dengan pulpen warna-warninya. mungkin juga itu karena hasil pemikiran semalaman dan menghabiskan berkilo-kilo cemilan atau berliter-liter cai kopi dan berbungkus bungkus rokok. hingga membuat mereka lupa akan tujuan yang sebenarnya, yang pada awal masuk perkuliahan mereka dengan semangat membara mengucapkan dalam hati akan menuntut ilmu dengan sekuat fisik dan mental. namun pada akhirnya mereka berdo'a kepada tuhan hanya ingin diluluskan saja melupakan ilmu yang telah mereka pelajari selama berkkuliah. saya yakin kebanyakan fokus kuliah mereka terganggu karena cinta sesama manusia, termasuk saya juga sering mengalami. waktu yang seharusnya dipakai kuliah, malah ketemuan ditaman kampus, perpus, masjid, perpustakaan dan berbagai tempat sepi lainnya. baik laki maupun perempuan. hingga akhirnya pada semester-semester akhir mereka kehilangan cinta kasih mereka, karena masing-masing dari mereka sedang sama-sama mengerjakan skripsi. bagi sebagian pasangan yang berhasil melewatinya mungkin bisa menjadi akhir yang indah, namun bagi yang berakhir na'as dan kabogohna direbut ku batur gara-gara lila lulus, lila beres, lila kaluar nilaina, bersabarlah, karena bersabar itu besar ganjarannya. saya ingatkan tetaplah fokus mencari ilmu jangan mencari perhatian. beres kuliah S1, mereka dibingungkan dengan pilihan antar KAWIN atau GAWE ??? ieu kabogoh geus teu kuat hayang dikawin . ceuk nu boga kabogoh. ceuk nu teu boga kabogoh kebanyakan mereka jongjon saja mengarungi hidup tanpa beban pikiran ajakan kawin dari kabogoh, kabogoh batur ieu. itu juga kalo yang jomblo santai, ceuk nu jomblo ngenes gara-gara geus lila teu boga kabogoh nya beda deui carita na, sibuk neangan gawe, neangan kabogoh ongkoh, ngebet hayang kawin ongkoh. UANG namun terlepas dari itu semua saya kira titik pencapaiannya adalah sama, yaitu UANG. kebanyakan dari mereka yang bersekolah hanya ingin mendapatkan gelar karena menurut pandangan mereka orang yang bergelar akan lebih mudah mendapatkan kerja, terlebih lagi lebih mudah untuk mencari uang, sebagian lagi adalah tuntutan orang tua. jika ditanya tentang tujuan merka akan uang, mereka akan berbicara terlebih dahulu dengan karir, pangkat lalu gaji. tapi tetap saja intinya adalah uang. mereka menolak untuk miskin, tapi kita harus membedakan antara hidup miskin dan miskin. miskin belum tentu sengsara tapi hidup miskin adalah kutukan alias pasti peurihlah ngajalanan na. intinya walaupin kita miskin kita harus tetap bersyukur, jangan sampai kita hidup miskin yang tanpa ada rasa syukur dan terus terobsesi dengan mengejar kekayaan karena jenuh hidup dengan kemiskinan. kembali lagi kepada ilmu, jika kita adalah orang berilmu dan beragama kita tidak akan terobsesi dengan kekayaan harta. karena sesungguhnya tujuan hidup ini adalah bukan untuk harta dan kehidupan duniawi. kita hidup didunia ini untuk beribadah kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena atas rido dan kuasaNya kita bisa hidup didunia. kita juga harus membantu sesama manusia yang sedang kesulitan, karena Rasul bersabda bahwa manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain terlebih bagi sesama umat muslim. tak perlu terobsesi dengan kekayaan, karena kekayaan akan mengenalkan kita kepada kesombongan, egois, bahkan mungkin lupa akan bersyukur. semakin banyak kita memegang kekayaan, maka akan semakin besar pertanggung jawaban kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar